Pertumbuhan Premi Asuransi Umum Januari 2018 Dinilai Tinggi

Industri asuransi umum berhasil mencatatkan pertumbuhan premi bruto dua digit pada Januari 2018. Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pertumbuhan tersebut mencapai 19,38% (year-on-year/yoy) dengan total premi Rp5,79 triliun dibanding periode yang sama 2017 sebesar Rp4,85 triliun.

Pertumbuhan premi bruto tersebut lebih baik ketimbang tahun lalu yang sebesar 13,58%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Doosy AS Dalimunthe menilai pertumbuhan tersebut termasuk tinggi. Adapun target pertumbuhan premi industri asuransi umum tahun ini dipatok 5% saja.

Pertumbuhan yang cukup signifikan tersebut, lanjut Doody bisa saja dipengaruhi realisasi Desember 2017 yang baru terlaksana pada awal tahun ini.

“Kami masih belum dapat mengidentifikasi apa penyebabnya. Bisa jadi di Januari 2018 ada realisasi premi yang tertunda di akhir tahun 2017,” kata Doddy kepada Bisnis, Selasa (6/3/2018).

Sebagai perbandingan, pada Desember 2017 total pendapatan premi industri asuransi umum juga tumbuh yoy 42% menjadi Rp63,62 triliun dibanding periode yang sama 2016 senilai Rp44,8 triliun.

Kendati ada pertumbuhan yang cukup signifikan di awal tahun ini, Doddy enggan buru-buru menyimpulkan hal tersebut akan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya, dan mempengaruhi pertumbuhan pendapatan premi tahunan. Target pertumbuhan 5% tahun ini menurutnya sangat realistis dan masih konservatif.

“Masih ada 11 bulan yang perkembangannya perlu dilihat. Kami masih memprediksi konservatif,” katanya.

Sementara itu, aset industri asuransi umum Januari 2018 hanya tumbuh 5% saja senilai Rp130,021 triliun dibandingkan dengan Januari 2017 dengan capaian Rp123,55 triliun.

Adapun dari segi investasi, industri asuransi umum berhasil mencatatkan pertumbuhan dua digit pada Januari tahun ini sebesar 11,4% menjadi Rp66,78 triliun dari periode yang sama 2017 sebesar Rp60,11 triliun.

Masih dari data statistik yang sama, pada Januari 2018 juga terjadi kenaikan premi reasuransi sebesar 30,06%. Namun kenaikan tersebut tidak dapat menurunkan premi netto karena basis angkanya lebih kecil.

Jumlah beban underwriting turun sebesar 3,68% yang disebabkan penurunan komponen reasuransi sebesar 38,35%, yang berdampak pada naiknya hasil underwriting sebesar 14,78%.

Sementara itu, jumlah beban usaha mengalami peningkatan 12,25%, yang dominan disebabkan oleh peningkatan beban pemasaran sebesar 65,12%. Namun, peningkatan jumlah beban usaha tersebut juga diikuti dengan pertumbuhan hasil investasi sebesar 11,4%.

sumber: bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*