Pendapatan Premi Asuransi Central Asia (ACA) Terbantu Permendag 80 Tahun 2018

Bisnis perusahaan Asuransi Central Asia (ACA) mencatat kinerja di sektor asuransi pengangkutan tumbuh positif. Hal ini terbantu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 80 tahun 2018 tentang ketentuan penggunaan angkutan laut dan asuransi nasional untuk kegiatan ekspor impor barang tertentu.

Direktur Asuransi Central Asia (ACA) Debbie mengatakan, bisnis ACA terbantu penerapan beleid tersebut. Kendati demikian, Debbie bilang aturan ini belum terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap Asuransi Central Asia.

Walaupun kewajiban menggunakan asuransi nasional ini ditujukan untuk komoditas crude palm oil (CPO) atawa minyak sawit dan batubara yang menjadi andalan Indonesia. Belum lagi, masih terdapat kendala dalam menggarap lini bisnis ini.

Ia bilang embargo CPO yang dilakukan Uni Eropa membuat ekspor komoditas ini tersendat. Sedangkan batubara juga memiliki isu polusi terhadap lingkungan yang mulai gencar digaungkan.

“Jadi di sana tantangannya, kendati demikian ini sudah berjalan. lini bisnis asuransi pengangkutan ini menyumbang kontribusi terhadap total premi perusahaan sebanyak 8%. Kira-kira sekitar Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar dan ini pun masih tumbuh,” ujar Debbie.

Debbie menyebut pendapatan premi Asuransi Central Asia per September 2019 tercatat tumbuh 2% year on year (yoy) menjadi sekitar Rp 2,2 triliun. Ia mengaku pertumbuhan stagnan ACA ini lantaran adanya penurunan pada bisnis asuransi kendaraan yang memberikan kontribusi sebanyak 35% dari total pendapatan premi perusahaan.

ACA pun telah berupaya untuk mengimbangi pendapatan premi dari lini bisnis lainnya. Debbie menyebut sudah mendorong pendapatan premi dari lini bisnis marine cargo, harta benda, perjalanan dan kredit.

Begitupun dengan PT Asuransi Wahana Tata alias Aswata mencatatkan premi sekitar Rp 60 miliar per September 2019 pada lini bisnis marine cargo.

Direktur Utama Aswata Christian Wanandi mengatakan, angka tersebut tumbuh 10% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Iya menyebut adanya Permendag) No. 80 tahun 2018 masih belum berdampak signifikan terhadap Aswata.

“Pertumbuhan itu ada pengaruhnya dari peraturan tersebut, tapi tidak signifikan,” jelasnya.

Tahun ini, Christian memproyeksikan pertumbuhan jenis asuransi ini bisa tembus 15%. Tahun lalu, porsi asuransi marine cargo Aswata sekitar 6% hingga 7% dari total premi perusahaan. Asuransi marine cargo milik Aswata masih menempati posisi empat besar dalam total portofolionya.

sumber: kontan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*