Kuartal I/2018: Lini Bisnis Harta Benda Tumbuh Negatif

Lini bisnis harta benda pada industri asuransi umum mencatatkan pertumbuhan negatif pada kuartal I/2018 seiring upaya perusahaan asuransi menjaga hasil underwriting.

Kinerja Asosiasi Asuransi Umum Indonesia kuartal I/2018 menunjukkan, pendapatan premi pada kuartal I/2018 sebesar Rp3,69 triliun atau menurun 10,1% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp4,11 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, pertumbuhan negatif tersebut disebabkan karena perusahaan-perusahaan asuransi yang menjual produk asuransi harta benda melepas beberapa portofolionya yang sudah tidak menguntungkan. Ke depan, asuransi umum dapat meningkatkan porsi bisnis dari properti residensial di dalam portofolionya.

Dia menjelaskan, rasio beban usaha terhadap premi bruto terus mengalami kenaikan sejak 2014 sebesar 14,6% hingga 2017 sebesar 20,2%. Dari total beban usaha, beban pemasaran yang naik paling tinggi sebesar 34,83% pada kuartal I/2018 berdasarkan data OJK.

“Artinya dalam kondisi ini, prudent underwriting tetap dijalankan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil underwriting tidak turun terlalu drastis,” katanya.

Guna menjaga hasil underwriting, maka perusahaan asuransi mulai mengurangi portofolio properti yang tidak menguntungkan. Portofolio properti dipilih karena merupakan pangsa pasar terbesar kedua dalam industri asuransi umum, setelah kendaraan bermotor.

“Ini sejalan dengan data di kuartal I bahwa properti ternyata mengalami penurunan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, guna menyeimbangkan bisnisnya, perusahaan asuransi meningkatkan portofolionya pada sejumlah lini bisnis yang memiliki klaim rasio yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan pendapatan premi pada kecelakaan diri, liability, dan aneka, meningkat.

Pendapatan premi pada lini bisnis kecelakaan diri tercatat Rp400,63 miliar pada kuartal I/2018 atau tumbuh 11,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp360,73 miliar.

Adapun, lini bisnis liability meningkat signifikan sebesar 84,6%, dari Rp512,22 miliar pada kuartal I/2017 menjadi Rp945,57 miliar pada kuartal I/2018. Sementara itu, pendapatan premi lini bisnis aneka tercatat Rp810,12 miliar atau tumbuh 19,9% dibandingkan dengan peridoe yang sama tahun lalu sebesar Rp675,58 miliar.

“Kami beranggapan yang dilakukan industri adalah mengorbankan bisnis yang tidak bagus dan mencari keseimbangan dengan mencari bisnis yang bagus,” imbuhnya.

sumber: Bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*