KETUA UMUM DEWAN ASURANSI INDONESIA DADANG SUKRESNA : “Masalah Kita di Regulasi”

Isu penetrasi yang rendah masih menjadi perhatian pemain industri asuransi di Indonesia. Hingga kini, kepemilikan polis sulit menembus 5 persen dari populasi. Untuk memanfaatkan momentum Hari Asuransi Ke-14 pada Jumat (18/10/2019), dan memperdalam penetrasi asuransi di Tanah Air, Bisnis.com mewawancarai Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dadang Sukresna. Berikut petikannya.

Penetrasi asuransi yang rendah selalu menjadi isu setiap tahun. Apa tantangannya saat ini?

Di industri asuransi, penetrasi kita itu masih sangat kecil. Perusahaan anggota kami, sebanyak-banyak cabang pun, usaha semaksimum pun, sepertinya peningkatan penetrasi asuransi masih kecil. Satu-satunya kegiatan yang kami lihat akan berdampak cepat pada masyarakat adalah melalui media.

Ini saya hanya bermimpi, mungkin suatu saat kalau kami ada kolom khusus asuransi, mungkin akan memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Cuma problemnya, kaum milenial kebiasaannya banyak melihat gadget.

Bagaimana caranya kami bisa membangun kerja sama supaya kami bisa saling memberi informasi lewat gadget atau social media. Terus terang anggota kami di industri asuransi sudah berusaha menjual produk-produknya lewat gadget.

Bagaimana kondisi perusahaan asuransi dalam mengadopsi teknologi?

Kalau saya bagi, industri asuransi khususnya di industri 4.0, ada perusahaan konvensional yang sudah membuka jalur distribusinya melalui social media atau gadget. Namun, ada pula perusahaan asuransi yang full, mulai dari pendiriannya sampai usahanya, melalui digital. Itu yang disebut insurtech.

Kalau kami bagi tiga, yang insurtech baru berkembang. Yang konvensional masuk ke digital juga baru berkembang. Mungkin konvensionalnya sudah cukup lama. Yang pure konvensionalnya memang cukup lama, tetapi untuk menjual atau memperkenalkan produk asuransinya, tetap saja enggak kena ke kaum milenial.

Apa tantangan lain untuk mendongkrak penetrasi asuransi di masyarakat?

Salah satu yang menjadi problem juga adalah masalah persaingan usaha. Misalkan ada satu perusahaan asuransi yang menggelar kegiatan yang berpotensi meningkatkan penetrasi asuransi di Tanah Air, tetapi dia tidak memberitahukan kepada asosiasi asuransi.

Karena melihat pengurus asosiasi asuransi notabene juga pelaku usaha asuransi dari perusahaan masing-masing, karena dikhawatirkan akan memanfaatkan hal yang sama. Sementara itu, mereka berharap usaha atau kerja sama dia itu tidak ingin ada yang mengganggu. Itu kami maklumi.

Ini menjadi satu PR kami, kalau kami melihat asosiasi asuransi di negara-negara tetangga, sebagian besar pengurusnya, atau bahkan seluruh pengurusnya adalah profesional dan tidak terikat dengan perusahaan asuransi manapun sehingga bisa dinyatakan netralitasnya.

Saat ini, kami sudah sepakat bahwa kami profesional dan netral, tidak mungkin memanfaatkan untuk perusahaan kami masing-masing sebuah kegiatan di asosiasi. Namun, persepsi orang atau anggota bahwa netralitas dipertanyakan, itu pasti tetap ada.

Nah, ini sedang kami coba rancang bangun bersama-sama dengan sekretariat, bersama dengan senior di asuransi. Kami sudah menyatakan bahwa bagaimana caranya supaya asosiasi ini pengurusnya selama 24 jam pekerjaannya hanya untuk asosiasi, tidak lagi diganggu pekerjaan perusahaan, tidak lagi diganggu dengan target-target perusahaan.

Apa yang akan atau sudah dilakukan DAI untuk merespon tantangan ini?

Kami punya tugas. Bukan hanya menjual, melainkan juga mengedukasi masyarakat. Tujuannya adalah memperkenalkan kenapa asuransi penting. Orang Indonesia kadang butuh enggak butuh. Kalau saya menjelaskan, sama seperti kita punya mobil dan ban serep. Kalau enggak ada apa-apa, boro-boro ban serep kita pikirin. Kalau kempes di jalan, enggak ada ban serep, itu namanya menderita bener.

Jadi, bagaimana caranya kami melakukan kerja sama ini supaya tujuan utama kami ke depan menyebarluaskan manfaat asuransi dan informasi kegiatan anggota kami.

Satu hal yang kami sedang bicarakan adalah asosiasi. Kalau asosiasi ada kegiatan, sebagian besar disampaikan kepada kawan-kawan media. Namun, kalau kawan-kawan anggota yang melakukan kegiatan, ada memang yang diumumkan ke kawan media, tetapi sebagian besar tidak, apapun itu kegiatannya.

Sebagian besar kawan-kawan yang tidak dekat dengan media, kami ingin merangkul, apapun kegiatannya yang terkait masyarakat luas, kami ingin diberi informasi supaya kami bisa mengundang kawan-kawan media juga. Mudah-mudahan ini menjadi suatu tantangan bersama supaya kegiatan ini bisa berjalan, terutama di daerah.

sumber: Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*