IPCM Lirik Bisnis Perawatan Kapal

PT Jasa Armada Indonesia Tbk., anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II/IPC, menargetkan mulai masuk ke bisnis perawatan kapal akhir 2019 dengan fokus tahap awal kepada perawatan kapal tunda atau tug boat.

Direktur Utama Jasa Armada Indonesia (JAI) Dawam Atmosudiro mengatakan perusahaan sedang dalam tahap penyiapan pasar dan administrasi. Selain itu, tenaga kerja perawatan kapal juga sudah disiapkan.

“Kami confirmed masuk ke situ [main­tenance] karena masih bersinggungan dengan bisnis kami,” katanya saat berkunjung ke redaksi Bisnis Indonesia, Kamis (18/10).

Dia menjelaskan emiten dengan kode saham IPCM ingin menciptakan pasar baru yang belum lazim. Selama ini, perusahaan yang membutuhkan jasa pandu dan tunda kapal biasanya menyerahkan pengoperasian tug boat milik mereka kepada pihak lain tanpa memedulikan perawatan.

Dawam meyakini potensi pasar lini usaha baru itu sangat besar karena belum banyak digarap. Bisnis perawatan kapal akan mendiversifikasi sumber pendapatan IPCM yang selama ini didominasi jasa pandu dan tunda kapal di pelabuhan umum, terminal khusus, dan lepas pantai (ship to ship).

Sepanjang tahun lalu, bisnis pemanduan dan penundaan kapal tahun lalu berkontribusi 96% pendapatan perseroan yang senilai Rp746,7 miliar. Sisanya disumbang oleh segmen cargo shipping untuk BUMN.

Sampai saat ini, Dawam belum dapat menyebutkan seberapa besar potensi dari bisnis perawatan kapal untuk pandu dan tunda.

“Saya kombinasikan model satu dengan model lain di mana manfaatnya juga dirasakan oleh si pemberi kerja [pengguna jasa],” ujarnya.

Pada masa mendatang, IPCM tidak menutup kemungkinan menggarap unit bisnis baru dengan merambah pula perawatan kapal besar.

Dawam juga meyakini pendapatan emiten penyedia jasa kapal pandu dan tunda akan meningkat setelah memperoleh pelimpahan wewenang pemanduan dan penundaan kapal lepas pantai di empat wilayah kerja perairan wajib pandu.

Dia optimistis pelimpahan wewenang di empat wilayah kerja tersebut bakal mendorong pendapatan perseroan dalam 2 tahun mendatang.

Dia memperkirakan perseroan dapat memperoleh pendapatan Rp600 miliar per tahun pada 2020, yang ditopang dari tambahan pasar baru tersebut dan rencana perluasan bisnis di bidang main­tenance.

“Mengenai pendapatannya tahun ini masih kecil. Tapi kalau perkiraan akan terasa besar di 2020,” katanya.

Sebelumnya, emiten itu telah menandatangani pengadaaan empat unit kapal tunda dengan minimal daya 2×2200 HP tipe Azimuth Stern Dirve (ASD) dengan investasi sebesar Rp223,85 miliar, dipesan dari PT Citra Shipyard.

Pembangunan kapal tersebut menggunakan dana yang bersumber dari hasil IPO. Dana bersih hasil IPO pada akhir tahun lalu sebesar Rp439,53 miliar.

Dawam menilai serapan dana hasil IPO saat ini masih nol. Hal ini karena pembayaran terhadap unit yang telah dipesan akan dilakukan menunggu hingga pembangunan kapal selesai. “Kalau sudah jadi, dibayar sekali,” imbuhnya.

MUARA MUSI

Direktur Operasional dan Komersial JAI Supardi juga menambahkan implementasi jasa pemanduan dan penundaan kapal di Muara Sungai Musi dilakukan pekan depan setelah Kementerian Perhubungan melimpahkan wewenang jasa pandu dan tunda pada awal bulan ini.

Menurutnya, perusahaan menyiapkan dua unit kapal tunda dan empat kapal pandu. Namun, dia melanjutkan jumlah kapal bisa disesuaikan dengan pasang surut pengangkutan batu bara di lokasi itu.

Bila pengangkutan batu bara sedang ramai, imbuhnya, JAI bisa mengambil kapal pandu dan tunda dari wilayah operasi lain, seperti Pelabuhan Palembang atau Pelabuhan Tanjung Priok.

“Minggu depan argo jalan. Harusnya sudah jalan sekarang. Istilahnya, kami sudah diberi taksinya, bensinnya ada. Tinggal narik,” ujarnya.

Muara Musi adalah ceruk pasar baru bagi JAI yang sejak tahun lalu ingin menangkap peluang di luar captive market selama ini yaitu jasa tunda di 12 pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II. Di lokasi itu, pengangkutan batu bara menggunakan tongkang mencapai 24 juta ton per tahun atau 2 juta ton per bulan.

JAI belakangan getol menggali sumber pendapatan dari jasa pandu dan tunda di terminal khusus atau terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS) serta lepas pantai (ship to ship).

Sebelum Muara Musi, JAI melayani jasa pandu dan tunda di inland waterways Lintas Ampera. Sementara untuk terminal khusus, JAI melayani PT Semen Merah Putih, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Cemindo Gemilang, PT MK Energy, PT Muara Alam Sejahtera (Baramulti). Di segmen ship to ship offshore terminals, JAI melayani PT Nusantara Regas dan PT Pertamina.

sumber: bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*