INVESTASI ASURANSI : Instrumen Baru Masih Minim Peminat

Sejumlah instrumen investasi baru yang ditawarkan dalam beberapa aturan anyar masih minim dimanfaatkan oleh pelaku usaha jasa perasuransian.

Sejumlah instrumen itu adalah medium term notes (MTN), repurchase agreement (REPO) dan pinjaman polis. Opsi investasi baru itu dimungkinkan oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Regulasi yang ditetapkan pada 23 Desember 2016 mengklasifikasikan aset yang diperkenankan dalam bentuk investasi ke dalam 19 bentuk instrumen. Ketentuan ini berbeda dengan regulasi sebelumnya, yakni Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Dua instrumen baru lainnya, yakniobligasi daerah serta dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK), ditambahkan melalui POJK No. 27/POJK.05/2018 tentang Perubahan atas No. 71/POJK.05/2016. Regulasi ini ditetapkan dan diundangkan pada 10 Desember 2018.

Data OJK tentang Statistik Perasuransian per Januari 2019, menunjukkan nilai total investasi asuransi jiwa mencapai Rp472,56 triliun atau meningkat 1,40% (year-on-year/yoy). Dari jumlah itu, hanya sekitar 0,55% atau senilai Rp2,61 triliun yang ditempatkan pada MTN. Namun, nilai alokasi investasi asuransi jiwa ini bertumbuh sekitar 45,42% (yoy).

Alokasi investasi asuransi jiwa ke pinjaman polis pun bertumbuh 9,00% (yoy) menjadi Rp2,14 triliun, kendati porsinya baru mencapai 0,45% dari total nilai investasi sektor ini. Dana investasi asuransi jiwa juga mulai nampak ditempatkan pada dana investasi infrastruktur berbentuk KIK, meskipun masih relatif sangat kecil, yakni senilai Rp236,6 juta.

Data tersebut menunjukkan belum ada alokasi investasi sektor asuransi jiwa ke REPO dan obligasi daerah.

Di sektor asuransi umum dan reasuransi, alokasi investasi ke instrumen baru bahkan lebih kecil. Hanya MTN yang menjadi pilihan alternatif bagi pelaku usaha asuransi kerugian dan reasuransi.

Penempatan investasi pelaku asuransi umum ke MTN mencapai Rp77,31 miliar atau sekitar 0,11% dari total nilai investasi yang mencapai Rp73,57 triliun. Alokasi itu bertumbuh 129,16% (yoy).

Sementara itu, pelaku reasuransi menempatkan dana kelolaan senilai Rp117,09 miliar atau sekitar 1,05% dari total nilai investasi sektor ini yang tercatat sebesar Rp11,20 triliun per Januari 2019. Nilai itu pun menyusut 37,39% (yoy).

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menilai pelaku asuransi memiliki pilihan instrumen yang beragam. Sejumlah instrumen, seperti saham, reksa dana, surat berharga negara atau SBN, serta obligasi korporasi masih menjadi pilihan utama pelaku asuransi.

“Kan instrumen investasinya asuransi jiwa bukan hanya MTN dan pinjaman polis saja,” ungkapnya dikutip Bisnis.com, Rabu (13/3/2019).

Menurutnya, terkait penempatan investasi, setiap perusahaan memiliki kebijakan masing-masing. Namun, jelas dia, kesesuaian instrumen dengan liabilitas perusahaan menjadi pertimbangan utama.

Produk asuransi jiwa, jelas dia, umumnya berjangka menenengah dan panjang. “Jadi, instrumen investasi yang dibeli mesti sesuai dengan horisonnya,” kata Togar

Faktor pertimbangan berikutnya, kata Togar, keamanan dari instrumen tersebut. Setelah itu, sebut dia, faktor imbal hasil ata yield instrumen menjadi pertimbangan pelaku asuransi. “Jadi, bukan masalah menarik atau tidak menarik,” ungkapnya.

sumber: bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*