Harga Komoditas Diyakini Dongkrak Industri Alat Berat

Kementerian Perindustrian meyakini permintaan industri alat berat meningkat, seiring dengan membaiknya harga komoditas, dan naiknya aktivitas sektor pertambangan di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap pelaku industri alat berat mampu memanfaatkan momentum tersebut untuk memacu produksinya.

Berdasarkan data Himpunan Alat Berat Indonesia, dalam dua terakhir tercatat kenaikan produksi alat berat. Pada 2016, produksi mencapai 3.678 unit dan setahun setelahnya menjadi sebanyak 5.609 unit.

Sementara itu, produksi kuartal I 2018 tercatat 1.684 unit diproduksi. Realisasi ini naik 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didominasi untuk kebutuhan sektor konstruksi dan pertambangan.

Alat berat jenis hydraulic exacavator menjadi kontributor tertinggi dari total produksi di kuartal I 2018 yang mencapai 1.534 unit atau 91 persen dari total produksi. Diikuti oleh bulldozer 89 unit, dump truck 60 unit, dan motor grader satu unit.

Diharapkan, produksi alat berat tahun ini tembus hingga 7.000 unit. “Pemerintah akan memfasilitasi pemberian super ‘deductible tax’ bagi industri yang berinovasi,” ujar Airlangga, mengutip Antara, Jumat (6/7).

Lagipula, langkah ini sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, dimana program prioritas untuk mendukung implementasi revolusi industri keempat di antaranya pembangunan ekosistem inovasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Tujuannya, mencetak tenaga kerja kompeten sesuai kebutuhan dunia industri saat ini. Apalagi, perusahaan engineering seperti ini dinilai bisa bertahan karena mengutamakan pembangunan SDM-nya.

Menurut Airlangga, industri alat berat berperan penting mendukung kegiatan usaha lain, seperti sektor pertambangan, pengolahan lahan hutan, pembangunan infrastruktur, serta perkebunan dan pertanian.

Industri alat berat juga disebut berupaya untuk meningkatkan komponen lokalnya, seperti pengembangan kendaraan pedesaan multiguna yang tengah didorong, yang saat ini komponen lokalnya mencapai 70 persen. “Jadi, kalau kita sudah bisa buat di dalam negeri, tidak perlu lagi impor,” tandasnya.

sumber: cnnindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*