AAUI Optimistis Pertumbuhan Premi Capai 7%

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia optimistis pertumbuhan premi asuransi umum secara keseluruhan sampai akhir 2017 mencapai 7% dibandingkan dengan tahun lalu, kendati pada paruh pertama tahun ini turun sekitar 4%.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna mengatakan hingga semester I/2017, pertumbuhan premi asuransi umum mengalami penurunan, yakni melemah 4% menjadi Rp 29,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama 2016 Rp 30,3 triliun.

“Secara year on year (YoY), total premi turun 4% pada semester I tahun ini. Alhamdullilah walaupun premi turun, klaim juga turun, karena kalau klaum naik agak repot. Untuk klaim turun 9,6% dari Rp 13,7 triliun menjadi Rp 12,4 triliun pada semester I/2017,” kata Dadang, usai menjadi pembicara dalam kegiatan Insurance Goes to Campus di Universitas Pelita Harapan (UPH) Medan, Jumat (06/10).

Dadang memperkirakan premi asuransi umum secara total sampai akhir tahun ini mampu bertumbuh, kendati masih di angka single digit. Dia memproyeksikan premi asuransi umum tumbuh di kisaran 6%-7% pada tahun ini.

“Kami optimistis masih akan tumbuh, meski single digit. Untuk klaim mudah-mudahan turun,” tukasnya.

Sepanjang Januari-Juni 2017, lanjut Dadan, pihaknya mencatat premi asuransi properti tumbuh negatif yakni turun 7% menjadi Rp8,09 triliun dibandingkan dengan posisi semester I/2016 yaitu Rp 8,7 triliun. Adapun premi asuransi kendaraan bermotor naik 9% menjadi Rp8,09 triliun dibandingkan dengan paruh pertama 2016 yaitu Rp7,4 triliun.

“Secara total memengaruhi pertumbuhan premi secara keseluruhan. Market share asuransi properti dan kendaraan bermotor cukup besar terhadap total premi secara keseluruhan. Penurunan pertumbuhan premi asuransi properti ini lebih dikarenakan ada beberapa polis yang besar-besar yang mengalami renewal. Bukan karena pasar properti yang lesu,” papar Dadang.

Untuk menjaga pertumbuhan kinerja industri ini, lanjut Dadang, pihaknya berharap seluruh proyek infrastruktur di Tanah Air dapat berjalan dengan baik. Ini mengingat sektor infrastruktur menjadi salah satu penyumbang terbesar kinerja asuransi umum di dalam negeri.

Pada kesempatan tersebut, Dadang juga menyingung mengenai kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di industri asuransi umum di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah kebutuhan tenaga aktuaris yang masih belum dapat dipenuhi saat ini, kendati permintaan SDM di bidang tersebut cukup besar.

Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 53/2012 ditegaskan bahwa laporan yang disampaikan perusahaan asuransi umum pengawas harus ditandatangani aktuaris. Pengadaan aktuaris bersertifikasi Fellow Society of Actuaries of Indonesia (FSAI) di perusahaan asuransi umum masih minim.

“Dari 81 anggota AAUI, baru 37 yang punya tenaga aktuaris. Mencarinya susah, pendidikan berat. Memang ini menjadi kendala bagi kami. Kami akan komunikasikan lagi dengan Otoritas Jasa Keuangan setelah sebelumnya memberikan relaksasi dua tahun, karena PMK ini berlaku efektif pada 2018,” papar Dadang.

Lebih lanjut Dadang menyambut positif kegiatan edukasi mengenai asuransi umum di perguruan tinggi seperti yang digelar oleh AAUI Medan kali ini. Kegiatan edukasi ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih baik lagi kepada para mahasiswa sehingga ke depan meningkatkan literasi asuransi di Tanah Air, dan mampu menaikkan minat mereka untuk menjadi tenaga kerja (SDM) di industri asuransi.

“Lebih banyak lagi generasi muda yang mengetahui akan asuransi, maka akan menjual informasi atau ilmu yang mereka peroleh tentang asuransi ke keluarga di sekitarnya, itu sudah cukup besar. Selain itu, membangkitkan ketertarikan mereka untuk menjadi tenaga kerja. Industri ini tetap kekurangan SDM karena asuransi terus berkembang. Ini menjadi program bersama kami dengan OJK,” pungkas Dadang.

sumber: bisnis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*