AAUI: Asuransi Kredit Hingga Pengangkutan Punya Peluang Positif Hingga Akhir 2019

Saat penjualan kendaraan bermotor masih loyo, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai ada beberapa lini bisnis yang memiliki peluang untuk tumbuh hingga penghujung 2019.

Ketua Bidang Statistik, Riset, Analisa TI dan Aktuarial AAUI Trinita Situmeang menyebut asuransi kredit dan yang berkaitan dengan program kemaritiman seperti rangka kapal dan pengangkutan memiliki peluang.

“Kita masih melihat lini bisnis harta benda dan kendaraan bermotor masih akan berkontribusi hingga 50% dari pangsa pasar. Sebab secara histori dua lini bisnis ini yang selalu menopang bisnis asuransi umum. Apakah kendaraan bermotor atau harta benda yang akan menjadi nomor satu itu akan berganti-ganti,” ujar Trinita.

Lanjut Ia, sebagai negara maritim, pendapatan premi dari asuransi rangka kapal dan pengangkutan juga berpeluang naik. Memang berdasarkan data AAUI, pendapatan premi asuransi rangka kapal melesat hingga paruh pertama 2019.

Tercatat pendapatan premi rangka kapal sebesar Rp 851,96 miliar. Nilai ini tumbuh 13,2% yoy dari pencapaian Juni 2018 senilai Rp 752,82 miliar.

Lanjut Trinita, bisnis asuransi pengangkutan juga akan terkerek naik hingga akhir tahun lantaran sudah ada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 80 tahun 2018.

Beleid ini mengatur tentang ketentuan penggunaan angkutan laut dan asuransi nasional untuk kegiatan ekspor impor barang tertentu. Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe menyatakan Permedag ini penerapannya secara menyeluruh akan terjadi pada Agustus 2019.

“Memang per Juni 2019, pendapatan premi pengangkutan masih tumbuh 0,3% dari Rp 1,860 triliun menjadi Rp 1,867 triliun. Memang angka per Juni ini masih masa transisi, asing masih diperbolehkan. Namun per Agustus sudah nasional semua dan sudah dikonfirmasi oleh Kemendag. Harapan kami pada kuartal-III akan berpengaruh pada premi pengangkutan,” jelas Dody.

Lanjut Dody lini bisnis pengangkutan juga ditopang oleh komoditas andalan utama Indonesia adalah batubara dan CPO. Begitupun dengan impor beras nantinya pengangkutannya diwajibkan menggunakan asuransi nasional.

Selain itu, AAUI juga memprediksi lini bisnis asuransi kredit masih akan tumbuh hingga akhir tahun 2019.

Premi bruto asuransi kredit tercatat sebesar Rp 5,75 triliun tumbuh 93,3% yoy dari Juni 2018 sebesar Rp 2,97 triliun. Dody mengatakan pertumbuhan pendapatan premi asuransi kredit memang tumbuh tinggi namun hal ini juga sebagai tantangan.

Lantaran kenaikan klaim yang cukup tinggi sehingga harus menjadi perhatian bagi underwriter perusahaan.

“Ini sekaligus menjadi tantangan bagi industri asuransi kredit, kebanyakan asuransi kredit diberikan untuk kredit konsumtif. Ini cukup seksi, lima tahun terakhir direbutkan oleh para pemain dimana tarif preminya rendah tapi pangsa pasarnya besar,” tambah Dody

Pencapaian asuransi kredit pada Juni 2019 merubah pangsa pasar lini asuransi umum. Bila pada semester 1 2018 lalu kontribusi terbesar disumbangkan oleh asuransi kendaraan bermotor hingga 27,8% lalu diikuti oleh harta benda 25,2%.

Sedangkan posisi ketiga ada asuransi kecelakaan diri dan kesehatan menyumbang 10,2%.

“Pada semester 1 2019 terjadi pergeseran pangsa pasar dimana lini bisnis asuransi harta benda sebesar 26,55% lalu asuransi kendaraan bermotor 23,2%,” tambah Trinita.

“Sedangkan posisi ketiga dicapai oleh lini bisnis asuransi kredit dengan proporsi sebesar 14.4% meninggalkan asuransi kecelakaan diri dan kesehatan yang terus menurun,” ujarnya.

Adapun pendapatan premi bruto perusahaan asuransi umum mencapai Rp 39,95 triliun hingga Juni 2019. Nilai ini tumbuh 20,6% year on year (yoy) dari posisi yang sama tahun lalu sebanyak Rp 33,31 triliun.

sumber: kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*