2019, OJK Harap Industri Asuransi Tumbuh 12 Persen

Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) menargetkan optimis premi industri asuransi mampu bertumbuh di kisaran 12 – 15 persen pada 2019. Padahal pada tahun 2018 premi asuransi pertumbuhannya mengalami penurunan baik itu premi industri asuransi, meliputi asuransi jiwa dan asuransi umum, pada tahun lalu hanya mencapai 9 persen.

“Pertumbuhan total premi industri asuransi, meliputi asuransi jiwa dan asuransi umum, pada tahun lalu hanya mencapai 9 persen. Tapi kami melihat ada potensi pertumbuhan premi yang lebih baik bagi industri pada tahun ini. Tahun ini, targetnya double digit, 12 – 15 persen,” kata Direktur Pengawas Asuransi OJK, Ahmad Nasrullah di sela-sela Seminar Prospek Bisnis IKNB 2019, Peluang dan Tantangan di Tahun Politik, Selasa (12/3).

Dikatakan, melemahnya kinerja industri asuransi pada tahun lalu sangat terkait dengan kondisi ekonomi global yang memengaruhi iklim bisnis di Indonesia, termasuk sektor asuransi.

Menurutnya, penurunan itu memang tidak terbilang signifikan. Kendati begitu, otoritas menilai kondisi itu menjadi sinyal serius agar pemangku kepentingan di sektor ini bisa memacu performanya pada tahun-tahun berikutnya. “Industri asuransi masih potensial tumbuh ke depan,” kata Ahmad.

Dikatakan, ada lima peluang dan tantangan IKNB di Indonesia. Pertama, rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia. Kedua, SDM di IKNB. Ketiga, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk IKNB. Keempat pendanaan industri dana pensiun dan terakhir inovasi industri jasa keuangan dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Sementara itu Deputi Komisioner Pengawasan IKNB OJK Moch Ihsanuddin memperkirakan pertumbuhan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) pada tahun ini cukup mengkhawatirkan. Salah satu disebabkan gejolak ekonomi global yang diprediksi akan mengalami perlambatan, sehingga berdampak pada perekonomian Indonesia.”

Perekonomian global masih belum terlihat pemulihannya secara signifikan. Apalagi pada April mendatang Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi, sehingga akan terjadi perlambatan sementara.
Dijelaskan, perlambatan ekonomi global yang pulihnya belum terlihat, berdampak turunnya harga komoditas, yang berkaitan dengan IKNB yang membiaya alat berat juga menurun, properti turun, otomotif turun,” ujarnya.

Menurutnya tantangan industri IKNB juga dipengaruhi defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) yang diperkirakan cukup besar. Mengingat CAD sangat berpengaruh pada industri jasa keuangan terutama pada pembiayaan sektor prioritas seperti kegiatan ekspor, pariwisata dan sektor perumahan.

sumber: kjogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*